Cinta Itu Tentang Hati, Bukan Testosteron

Sabtu, 08 November 2014



Ahhhh sudah sebulan persis sejak meninggalkan istri di rumah. Maklum, baru dapat job baru di Jakarta. Sementara istri ditinggal di Semarang, rencana minggu ini pindahan ke jakarta.

Jujur saat seminggu awal di jakarta bingung berat. Ini kota macet luar biasa dan lihat cewek ngrokok jadi biasa banget. Alhamdulillah, sebulan berjalan sudah jadi biasa.

Mau sedikit share sama kawan-kawan pemabca (kalo ada yang baca ya). Sudah sejak 5 November saya sibuk di Indo Defence, bantu-bantu lah. Cuman begini, itu stand isinya cewek cakep pake baju seksi semua. Terus ada apa???

Kebetulan kerjaan saya buat berita atau tulisan gitu, jadi nongkrongnya di media center. Sambil dengerin Raisa ma Kerispatih. Tiba-tiba ada kepikiran satu redaksional menarik bahwa "Cinta itu tentang hati, bukan testosteron". Menurut kalian gimana???

Secara saya udah nikah, lalu LDR dan dalam suasana jauh dari istri ketemu cewek-cewek seksi gitu, terus sambil ngetik dengerin lagu-lagu galau Raisa ma Kerispatih. Dapet deh feel nya, mudeng atau mubeng nih???

Dalam situasi seperti itu godaan mata luar biasa. Tapi gara-gara lagu galau Mbak Raisa dan Kerispatih jadi meluruskan otak dan hari, ckckckckck. Alhasil, kayaknya saringan otak+hati bekerja sempurna. Sampai pada kesimpulan, bahwa yang seksi-seksi itu bukan tentang cinta dan hati kita tak tergerak.

Rindu sama istri di rumah, mengenang masa-masa perjuangan mendapatkannya. Semua campur aduk saat berkontemplasi dengan bantuan Raisa dan Kerispatih. Begitulah cinta, perlu ujian yang nyata, kalau lolos satu ujian, akan datang ujian lebih berat, sampai kita capai ma'rifat.

*Ditulis di media center INDO DEFENCE 2014 JIEXPO Kemayoran

Indahnya Menikah

Minggu, 22 Desember 2013

Kawan, alhamdulillah gelaran akad nikahku dengan Yuni Maharani Putri berjalan lancar. Tak ada banyak rintangan yang membersamai kami menjalankan akad.

Kalau banyak teman yang bilang menikah itu indah, maka benarlah mereka. Alhamdulillah indah yang halal itu mempesona setiap insan manusia.

Tangan kami yang sama sekali tak pernah bersentuhan, tiba-tiba merasakan betapa berharganya arti sebuah kesucian. Alhamdulillah indahnya yang halal melebihi keindahan apapun di dunia.

Kawan, menikah itu tentang keberanian mengadapi masa depan dan juga kepercayaan diri hadapi tantangan. Sebaik apapun rencana kita, hanya Allah yang memutuskan segalanya.

Kawan ada kalanya seseorang jatuh dalan kesedihan mendalam yang menghujam dirinya. Sebenarnya Allah tahu yang terbaik bagi hambaNya. Tak ada yang tahua bagaimana seseorang akan mati maupun melahirkan generasi penerusnya.

Kawan, sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Karena dia tahu untuk apa setiap keputusan diambil. Setiap kejadian selalu ada hikmah dan ruang lebar untuk belajar.

Aku dan kamu kawanku, kita semua sedang menghadapi getirnya perasaan, tentang cinta maipun cita. Namun, dengan kembali pada Allah semua akan benar-benar indah.

Nasehat Untukku dan Untukmu Sobat

Senin, 09 Desember 2013

Sore ini Semarang begitu dingin, dengan hujan gerimis yang menemani. Aku sendirian di sebuah ruang memikirkan tentang kita di masa depan. Kita ini adalah aku dan kamu sobat.

Sebentar lagi mungkin aku akan mengenang masa-masa kebebasan seorang lelaki dalam menentukan pilihannya dalam bergaul. Sebentar lagi aku menjadi lelaki yang harus mau mendengar apa kata pasanganku. Aku hanya akan bisa mengenang masa-masa penuh canda tawa itu.

Sobat, mungkin selama ini aku banyak bersikap tak patut terhadapmu dan kawan-kawan lain. Sungguh, tak ada niat dalam diri ini untuk sengaja menyakitimu. Sobat, kita bersama dalam waktu yang lama dan aku telah menganggapmu/kalian sebagai sodaraku, dimana resah gundah dan curiga aku ceritakan pada kalian.

Akan kuingat masa dimana aku tak betah lagi tidur di rumah. Selepas pulang kantor tanpa mandi sore langsung saja aku mampir singgah dan tidur di tempat kalian. Akan aku ingat masa-masa dimana kita asyik bercanda sampai tengah malam membicarakan kita, harta, wanita. Hah dasar anak muda yang larut dalam dunia.

Aku rasa semua ini wajar saja. Sobat, aku hanya ingin pertalian sodaraku kita terus berlanjut, walau waktuku akan lebih banyak tersita untuk istriku nanti. Aku ingin suatu saat kita berkumpul dan bercerita nostalgia masa lampau, betapa indahnya itu.

Sobat, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku ini. Apakah semua diantara kita bahagia, atau masih ada yang gundah dan resah memikirkan masa depan dan masa lampau. Sungguh aku hanya bisa berharap dan berpesan, bahwa Allah punya cerita dan skenario yang luar biasa. Asalkan kita percaya dan punya prasangka bahwa Dia akan memberikan yang terbaik.

Yang terbaik tak selalu yang tercantik, terkaya, termegah dan serba dihitung-dilihat secara kasat mata. Bisa jadi Allah menyiapkan skenario yang lebih dahsyat dari film Korea. Yang bila kita alami dan jalani, insyaallah kita tak akan berhenti menangis bersyukur atas segala karuniaNya.

Sobat, dalam doaku dan dzikirku aku ingin kita semua bahagisa dunia akhirat. Bahagia yang membuat kita terus ingat padaNya. Bahagia yang membuat kita bisa berbagi tawa, canda dan harta untuk sesama. Semua adalah titipan dariNya. Kita bekerja keras untuk mewujudkan sesuatu yang membuat kita bahagia, walau belum tentu baik di mataNya.

Sobat, aku memohon doa darimu untukku nanti bisa membahagiakan bidadari yang sudah dipilihkan olehNya. Aku masih merasa tak pantas untuk mendampingi seorang akhwat solehah. Namun Sang Sutradara punya kisah lain untukku. Aku yakin dan semakin yakin bahwa sesuatu yang besar sedang menungguku di depan dan aku harap kalian bisa bersamaku kelak, untuk berjuang menegakkan kalimat Allah dan mewujudkan kebahagian bagi semuanya.

Sobat, semoga kita bisa terus berpelukan bersama dalam pohon yang tertancap ke bumi dan berujung ke surga. Semoga...(IDC)

Karena Aku Seorang Laki-Laki

Semarang siang ini tak begitu panas seperti biasanya. Mendung serta angin semilir membuat suasana seperti kota Bandung. Ah kalau ingat kota Bandung, banyak hal yang ingin aku lakukan di sana.

Insyaallah esok hari ditanggal 15 Desember 2013 aku akan melangsungkan pernikahan di Bekasi. Proses ini berjalan sejak akhir September 2013. Tidak ada niat sebelumnya untuk menikah, namun dalam renungan dan doa Allah memberikan tanda sebaliknya.

Aku tak ingin bercerita bagaimana proses sampai akhwat tersebut bersedia menerima, tentunya dengan bantuan keluarga dan murobbinya (guru). Dalam proses ini, aku melihat ada sesuatu yang begitu berharga, yaitu niat dan keberanian.

Aku seorang laki-laki dan pastinya laki-laki dalam posisi ini berbeda dengan wanita. Seorang wanita menang dalam menolak, namun agak sulit memilih, bahkan tidak bisa memilih dalam banyak kasus. Berbeda dengan laki-laki yang identik dalam posisi menang memilih, namun harus siap ditolak. Hal ini setidaknya aku sadari setelah aku memberanikan diri untuk "melamar".

Begitu banyak kejadian dan peristiwa yag membuat seorang anak manusia jatuh dalam lubang penyesalan yang begitu dalam. Dalam beberapa kasus seorang laki-laki akan menyesal luar biasa saat wanita yang disukainya menikah dengan orang lain.

Penyesalan akan semakin dalam bilamana laki-laki tersebut tak pernah dan tak sempat "melamar wanita yang disukainya. Disinilah seorang laki-laki harus membuang jauh-jauh ego dan rasa takutnya. Dalam posisi sudah dewasa, seorang laki-laki menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Penyesalan selalu meninggalkan rasa pedih yang mendalam. Keberanian seorang laki-laki harus mengalahkan segala rasa takut dan rintangan di depannya. Kenapa harus berani? Menikah adalah ibadah yang besar dan setan dengan segala cara akan menghalangi ibadah sakral tersebut.

Setan dengan segala cara akan memberikan rasa takut dan rasa ragu dalam menempuh proses pernikahan. Meluruskan niat begitu sulit, apalagi halangan datang dari keluarga maupun lingkungan terdekat Keberanian melamar saja membutuhkan proses yang sangat panjang dan menyerap banyak energi.

Entah bagaimana cara orang lain mengumpulkan keberanian dan ketekatan niat yang bulat untuk maju melamar. Niat yang bulat tidak serta merta membuat seorang laki-laki berani langsung berhadapan dengan seorang wanita yang akan dilamarnya. Ada yang hanya berani ngomong dan curhat dengan orang lain, ada yang akhirnya tekad itu hanya menjadi tekad saja tanpa dibuat menjadi nyata.

Sekali lagi, setan tidak ingin seorang muslim "terjebak" dalam ibadah melengkapi setengah agamanya. Rasa takut dan ragu laki-laki lebih mendominasi. Keraguan tidak mendapat rejeki yang layak pasca menikah dan rasa takut berbagai macam membuat kendor niat dan keberanian untuk menikah.

Banyak juga teman dan sodaraku yang secara materi berkecukupan sampai saat ini belum kunjung menikah. Aku juga tak tahu alasan persisnya, namun ada yang sudah bertunangan lantas batal pernikahannya, sampai ada yang masalah masa lalu masih sulit dihilangkan.

Itulah setan, tipu dayanya begitu besar dan sering menutup hati kita, bahwa pertolongan Allah sebenarnya lebih besar. Setan berhasil membuat Nabi Adam dan Hawa turun dari surga ke bumi. Padahal Nabi Adam begitu dekat dengan Allah. Ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai manusia biasa, bahwa ketekatan bulat untuk menikah tidak cukup, dan keberanian harus dikumpulkan, setidaknya untuk melawan rasa takut dan ragu yang disebar oleh setan.

Jujur dalam proses menunggu akad pernikahanku ini, beberapa rasa ragu tiba-tiba muncul. Apa benar orang seburuk aku ini bisa berjodoh dengan seorang akhwat solehah. Pikiran itu berkali-kali datang dan jawaban itu juga datang. Bisa jadi inilah jawaban dari Allah atas doaku yang menginginkan pendamping yang bisa membawaku hidup lebih baik dan dekat padaNya.

Aku sebisa mungkin berprasangka baik pada segala takdir yang telah berjalan. Karena aku yakin bahwa Allah mengikuti prasangka hambaNya. Murobbi calonku juga mengingatkan bahwa akan banyak halangan dan cobaan yang datang sebelum kami benar-benar menikah.

Beberapa hari yang lalu calonku baru sembuh dari penyakit campak. Aku sendiri baru sembuh dari tipes dan radang tenggorkan. Belum lagi "gangguan" pikiran dan ide-ide aneh yang berseliweran di otakku. Setan benar-benar sedang berjuang menebar rasa ragu dan rasa takut. Aku berprasangka baik bahwa pasca menikah Allah akan melipatgandakan rejeki kami nantinya.

Pada akhirnya saat aku menuliskan ini, aku dalam kondisi insyallah siap dunia akhirt dan lhir batin untuk membentuk keluarga samarah. Insyaallah keyakinan ini akan menuntun ke lembah jannah nantinya, semoga. Bismillah... (IDC)


Sempurnakah Agamaku di Esok Hari???

Selasa, 17 September 2013

Ini kutulis sehari sebelum ku "ikrarkan" khitbah kepada seseorang. Entah apakah besok khitbahku diterima atau tidak, tapi biar blog ini menjadi saksi, tentang usaha seorang lelaki yang ingin menyempurnakan agamanya.


Aku tak akan buka siapa wanita itu, tak pula aku ceritakan bagaimana ku mengenalnya. Itu semua tak lagi penting, karena bagiku yang terpenting adalah dia telah mampu menghapus luka lama. Entah apakah esok akan menjadi penutup luka, atau malah menjadi luka baru yang lebih dalam.

Sampai besok mungkin dia tak tahu perasaanku. Karena tingkahku yang urakan ini, sebenarnya tak akan diharapkan oleh "gadis" baik-baik. Tapi entah mengapa cinta tumbuh di ramainya laku-ku. Tak biasa ku menyukai gadis yang aku tak jaim di depannya.

Aku tulis ini dengan menahan tetesan air mata yang mengantri di kelopak mata, tapi tetap mampu kutahan. Biarlah air mata ini kusimpan untuk esok hari, apapun jawabannya.

Aku yakin tak banyak orang menyadari ini dan akan menjadi cerita panjang saat tingkahku di esok hari ramai diketahui orang. 

Aku tak sedang mencari yang rupawan, apalagi yang jutawan. Aku hanya ingin mencari kenyamanan, seseorang yang aku kenal dan tahu tingkahku selama ini. Bukan orang asing yang tiba-tiba hadir dihadapan dan menerima ikrar janji sehidup semati.

Blok-blok impianku sudah tersusun rapi dan kau menjadi salah satu pilarnya. Dan semoga Tuhan memberi apa yang aku harapkan, sebuah jawaban "Iya akh".

My Confession (Fiksi)

Minggu, 07 Juli 2013


Engkau yang hadir 6 tahun lalu
Engkau yang  datang tanpa aku sadari
Menjadi sebab utama perubahan diriku saat ini

Enkau yang membuatku berpikir
Engkau yang menjadi alasan
Aku menceburkan diri dalam barisan ini

Namun aku terlalu larut dengan kesibukan ini
Aku yang lupa keberadaanmu
Yang menjadi alasan aku terus bertahan

Sampai akhir perpisahan itu
Sampai saat itu aku lupa
Engkaulah yang sudah membawaku sejauh ini

Engkau tanpa banyak kata
Engkau tanpa ucap rasa
Mengikat hatiku sampai saat ini

Maafkan diriku yang lancang
Maafkan aku yang berlebihan
Untuk tetap menyimpan rasa sampai saat ini